Hidup ini misteri, biarkan tetap misteri
Jangan menerka akhir seperti apa
Lakukan yang kamu sukai
Jalani dengan sungguh-sungguh
Gambar : Film Sokola Rimba
Lulus kuliah aku mau kemana ? Aku bingung dan sedih kalau ditanya seseorang tentang rencana ke depan mau ngapain.
Bulan November lalu tahun 2016 aku mendaftar ke sebuah lembaga yang sama sekali belum pernah aku mendengarnya, Sokola namanya. Jujur aku belum pernah nonton filmnya Sokola Rimba yang tayang pada tahun 2013 dan dibintangi oleh Prisia Nasution serta diproduseri oleh Mira Lesmana. Mungkin tahun tersebut aku sibuk - sibuknya dengan dunia baru saat menjadi Mahasiswa Baru. Aku tau Sokola Institute dari instagram yang sudah aku kepoin sejak lulus Diploma 3. Awalnya aku mendaftar beberapa tempat usaha pariwisata namun aku gagal wawancara pertama dan langsung ciut mentalku. Setelah aku lolos menjadi peserta Ekspedisi Nusantara Jaya mewakili kampusku (padahal aku sudah jadi alumni) aku semakin ketagihan berkecimbung di dunia sosial.
Lanjut lagi ya, setelah itu aku pasrah kalau nantinya tidak akan menjadi bagian dari Sokola. Lalu aku pun pulang ke rumah di Sragen, mahal juga bayar kos di Depok tanpa ada kegiatan apapun. Keinginan orang tua ku itu bekerja apapun asal halal, tapi aku tidak suka kerja jadi bawahan orang kantoran kecuali dibidang sosial yang biasanya status atau strata sama dengan atasan (pikirku begitu). Lebih baik aku buat usaha laundry atau rumah makan ataupun usaha travel dengan modalnya kecil.
Akhir bulan Desember, aku dinyatakan lulus tahap pertama yaitu formulir. Eee senangnya. Lalu aku menjelaskan ke Ibu bahwa lolos tahap pertama Sokola sampai organisasinya. Aku download video tentang Orang Rimba dan semua tentang Sokola agar mudah menjelaskan ke Ibu. Untung saja kakakku Aprilia Hartami, tahu tentang Butet Manurung (Pendiri Sokola). Jadi lebih lancar ijinku. Tidak lama setelah pengumuman tersebut aku melakukan wawancara. Untungnya bisa melakukan wawancara via Skype karena aku masih di kampung halaman. Waktu itu aku mencari wifi terkencang di cafe - cafe dekat rumahku. Sebelum wawancara aku gugup setengah mati, pikirku bagaimana kalau aku nge-blank. Waktu yang disampaikan dari pihak Sokola (waktu itu Kak Hani WA sama aku) satu jam, dan benar saja satu jam aku jawab ini itu, dibantailah pikirku tentang indigenous people, pendidikan (aku pun bukan dari dunia pendidikan), Orang Rimba, bahkan sampai pariwisata. Lemes aku ahahaa. Saat itu kakakku tanya "gimana dek ? kok lama banget" aku pun menjawab "aku pasrah, kalau ketrima alhamdulillah kalau enggak juga gak apa - apa, walopun aku pengen". Tahu dirilah aku, semua pertanyaan yang aku susah jawab adalah tentang pariwisata terhadap masyarakat adat. Kalau dibuku pariwisata yang notaben bicara bisnis, pariwisata menyelamatkan negara melalui defisa, benarkan ? Tetapi apakah berlaku di dunia sosial khususnya Masyarakat Adat ? Sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya.
Mungkin seminggu kemudian ada kabar dari Kak Hani, kalau aku diterima di Sokola dan ditempatkan di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Huwaaa aku teriak dan nangis (tapi aku tahan malu sama orang tua). Keluarga kecilku senang. Setidaknya aku punya kegiatan positif dan gak minta ibu uang lagi. Pikirku begitu, padahal belum dijalani belum pula masuk ke hutannya Sumatera Selatan. Keluarga besar tahu kalau aku akan jadi seorang guru di pedalaman Sumatera sana, dihutan pula. Aduh gak kebayang. Jelas mereka pun tidak setuju, aku cucu perempuan terakhir dan sepupuku lebih 20 orang. Intinya aku tidak boleh merantau lagi meninggalkan ibuku sendirian di rumah. Baik ya, aku jadi makin sayang. (Iyalah namanya juga keluarga)
Sekelut dibenak ini tentang kehidupanku nanti, apa ini jalan yang benar ? Apa aku bisa melewati semua ? Jauh dari rumah, dari semua kenyamanan ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar