Entri yang Diunggulkan

Mencari Sesuatu Yang Berharga

Hidup ini misteri, biarkan tetap misteri Jangan menerka akhir seperti apa Lakukan yang kamu sukai  Jalani dengan sungguh-sung...

Rabu, 08 Februari 2017

Makan Katak -__-

Jauh dari rumah membuat kita menemukan apa arti hidup ini
Asal satunya adalah berguna untuk orang lain

Hari kedua ini, aku sangat rajin mungkin karena aku cewek sendirian ya. Aku mulai masak dan bersih-bersih kontrakan. Aku masih canggung dengan Pico, Menosur bahkan dengan Bang Jefri. Pagi ini aku belanja ke pasar sendirian. Naluri emak-emak sekali ya. Aku menyusuri jalanan Merangin, angin sepoi-sepoi. Siang di sini panas sekali tapi lembab beda dengan di Jawa kalau siang panas menyengat. Ternyata di Sumatera mahal-mahal bahan makanan, dihitung-hitung habis 55.000 dihari pertama ku belanja tanpa daging pula. Biasanya kalau dirumah beli ikan bandeng hanya 6.000-9.000 tergantung ukuran, atau ayam cukup 20.000 sudah dapat banyak. Aku langsung hafal jalanan yang aku lewati, aku mengingat tembok cat dan warung-warung. Kontrakan sekaligus kantorku berada di Jalan Imam Bonjol no 11, Pamatang Kandis, Bangko Merangin, Jambi, Sumsel

Malam hari aku sebenarnya sudah makan malam dengan telor, sayur sup dan tahu goreng. Bang Prabu dan Menosur pergi entah kemana. Aku dan Pico dan Mijak (Kader senior yang pernah diundang Mata Najwa bersama Pengendum) nonton Pee Mak Phrakanong. Sementara aku nyambi bantu buat laporan keuangan Bang Jefri dari bulan Oktober. Walaupun aku hanya nempel nota-nota ke selembar kertas A4 tapi aku rasa Bang Jefri keteteran setahun kemaren menjadi guru Sokola Rimba sendirian. Kalau berdua atau lebih kan bisa saling bantu ngerjain laporannya.

Saat klimaks filmnya, Bang Prabu dan Menosur pulang bawa dua katak sungai. Aku gak langsung percaya saat bertanya ke Bang Prabu. Ternyata benar. Dimasak dengan bumbu-bumbu bawang, cabai, dan lainnya. Fallaaa sudah selesai masak kataknya, Aku sengaja gak bantu masak katak takut mual. Akhirnya Bang Prabu bawa semangkuk sup katak khas Orang Rimba. Gak mampu membayanginnya, tapi tidak amis, dan aku pun mencoba sepotong kecil swike (paha katak) tangan kiriku sudah siap segelas air putih. Ternyata lumayan lah rasanya. Aku kan membayangkan KATAK di Jawa, Bangkong. Dan saat buat tulisan ini, ada katak kecil masuk kamarku mungkin lewat sela-sela pintuku. 

Cerita dibalik katak, aku terharu sekali ahahaa mereka berdua mencari katak di sungai malam-malam pula dan membuatkanku sup katak. Enak sekali iboo...

Mau lihat sup kataknya ?
Ini dia.... 
Gambar Pribadi : Sup Katak yang Enak

Senin, 06 Februari 2017

Pergi Ke Sumatera Pertama Kalinya

"Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya "
- Buzz Toys Story -

Gambar Pribadi : Berangkat dari kost Desny

Ini adalah hari besar bagiku, aku pertama kali pergi ke Sumatera. Penerbanganku pukul 11 am dengan citilink, malamnya aku tidak bisa tidur, berkelutlah dipikiranku apa ini langkah yang benar atau aku juga takut kalau telat bangun, hehe biasanya aku bangun jam 8 pagi kalau semasa kuliah kemaren. Pagi jam 6 am sudah rapi dan aku berangkat sampai di Bandara Soekarno Hatta menggunakan ojek online dari kosan temen Desny namanya, aku nomaden selama di Depok dari tanggal 1 Februari lalu. Ternyata aku sampai di Bandara kurang dari jam 8 dan penerbanganku delay sejam jadi 12.30 take off. Perjalanan kemaren aku solo traveler lah bisa dibilang ahaha tapi sudah diurus semua dari Sokola.

Rincian Perjalanan:
Jakarta - Jambi via udara 1 jam 
Jambi - Bangko via darat 6-7 jam

Melewati jalur Lintas Sumatera, tidak begitu terasa lama karena driver travel ku suka bercerita kalau dipancing, walaupun bahasa minang ku buruk asal pakai akhiran vokal o. Rupanya mantan driver tronton dia pun bercerita tentang preman-preman di sepanjang Lintas Sumatera. Mukanya sangar tapi baik. 

Ehh aku belum bercerita tentang partnerku dalam satu tahun nanti ya. Bang Jefri, asal Flores rambut keriting khas dan humoris (aku tahu dari chat WA dengannya). Aku belum pernah bertemu dia, partnerku dari Sokola hanya Bang Jefri. Namun Kak Indit (salah satu pendiri Sokola juga sahabat baik Kak Butet waktu di WARSI) bakal sering bolak-balik Jakarta-Jambi.

Aku turun di depan Stadiun Lapangan Sepakbola Koni, Bangko. Katanya kontrakan Kantor Sokola itu dibelakang Stadiun tersebut. Tidak lama kemudian, sosok lelaki tinggi sudah menunggu (eaaa) dia Pico salah satu Kader KMB (Kelompok Makekal Bersatu) sekarang. Jangan salah paham pembaca, Pico masih ABG ahahaa jemput dengan motor Sokola. Sampailah aku di kontrakan, isinya semua laki-laki tapi ada kamar khusus buat cewek. Terharu aku ternyata mereka nyiapin sprei baru untuk aku, dan disapu bersih kontrakan. Katanya sih untuk menyambut Guru Beheru (Guru Baru).ahahaa

Akhirnya aku kenalan dengan partnerku Bang Jefri, ehhh bener humoris dia. Lalu Menosur, adeknya Pico. Lalu Bang Prabu orang Dinas Sosial Bangko yang suka main ke kontrakan dan beberapa orang teman di Bangko, yang aku ingat Mamak (ini cowok ya) yang rambutnya gondrong dan dia yang melukis dinding kamar ku. 
Gambar Pribadi : Lukisan Mamak

Aku cuman kenalan sebentar, rame ya aku pikir hanya berdua dengan Bang Jefri atau sama beberapa Kader KMB.

Kader KMB itu adalah komunitas untuk melindungi adat Orang Rimba dari Rombong Makekal Hulu. Kalau ada organisasi mereka bisa melakukan advokasi untuk rombongnya sendiri.

Akhirnya aku tepat deh. Ikuti terus tulisanku ya 

Rabu, 01 Februari 2017

Mencari Sesuatu Yang Berharga




Hidup ini misteri, biarkan tetap misteri
Jangan menerka akhir seperti apa
Lakukan yang kamu sukai
 Jalani dengan sungguh-sungguh


Hasil gambar untuk sokola rimba
Gambar : Film Sokola Rimba
Lulus kuliah aku mau kemana ? Aku bingung dan sedih kalau ditanya seseorang tentang rencana ke depan mau ngapain.

Bulan November lalu tahun 2016 aku mendaftar ke sebuah lembaga yang sama sekali belum pernah aku mendengarnya, Sokola namanya. Jujur aku belum pernah nonton filmnya Sokola Rimba yang tayang pada tahun 2013 dan dibintangi oleh Prisia Nasution serta diproduseri oleh Mira Lesmana. Mungkin tahun tersebut aku sibuk - sibuknya dengan dunia baru saat menjadi Mahasiswa Baru. Aku tau Sokola Institute dari instagram yang sudah aku kepoin sejak lulus Diploma 3. Awalnya aku mendaftar beberapa tempat usaha pariwisata namun aku gagal wawancara pertama dan langsung ciut mentalku. Setelah aku lolos menjadi peserta Ekspedisi Nusantara Jaya mewakili kampusku (padahal aku sudah jadi alumni) aku semakin ketagihan berkecimbung di dunia sosial.

Lanjut lagi ya, setelah itu aku pasrah kalau nantinya tidak akan menjadi bagian dari Sokola. Lalu aku pun pulang ke rumah di Sragen, mahal juga bayar kos di Depok tanpa ada kegiatan apapun. Keinginan orang tua ku itu bekerja apapun asal halal, tapi aku tidak suka kerja jadi bawahan orang kantoran kecuali dibidang sosial yang biasanya status atau strata sama dengan atasan (pikirku begitu). Lebih baik aku buat usaha laundry atau rumah makan ataupun usaha travel dengan modalnya kecil. 

Akhir bulan Desember, aku dinyatakan lulus tahap pertama yaitu formulir. Eee senangnya. Lalu aku menjelaskan ke Ibu bahwa lolos tahap pertama Sokola sampai organisasinya. Aku download video tentang Orang Rimba dan semua tentang Sokola agar mudah menjelaskan ke Ibu. Untung saja kakakku Aprilia Hartami, tahu tentang Butet Manurung (Pendiri Sokola). Jadi lebih lancar ijinku. Tidak lama setelah pengumuman tersebut aku melakukan wawancara. Untungnya bisa melakukan wawancara via Skype karena aku masih di kampung halaman. Waktu itu aku mencari wifi terkencang di cafe - cafe dekat rumahku. Sebelum wawancara aku gugup setengah mati, pikirku bagaimana kalau aku nge-blank. Waktu yang disampaikan dari pihak Sokola (waktu itu Kak Hani WA sama aku) satu jam, dan benar saja satu jam aku jawab ini itu, dibantailah pikirku tentang indigenous people, pendidikan (aku pun bukan dari dunia pendidikan), Orang Rimba, bahkan sampai pariwisata. Lemes aku ahahaa. Saat itu kakakku tanya "gimana dek ? kok lama banget" aku pun menjawab "aku pasrah, kalau ketrima alhamdulillah kalau enggak juga gak apa - apa, walopun aku pengen". Tahu dirilah aku, semua pertanyaan yang aku susah jawab adalah tentang pariwisata terhadap masyarakat adat. Kalau dibuku pariwisata yang notaben bicara bisnis, pariwisata menyelamatkan negara melalui defisa, benarkan ? Tetapi apakah berlaku di dunia sosial khususnya Masyarakat Adat ? Sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya.

Mungkin seminggu kemudian ada kabar dari Kak Hani, kalau aku diterima di Sokola dan ditempatkan di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Huwaaa aku teriak dan nangis (tapi aku tahan malu sama orang tua). Keluarga kecilku senang. Setidaknya aku punya kegiatan positif dan gak minta ibu uang lagi. Pikirku begitu, padahal belum dijalani belum pula masuk ke hutannya Sumatera Selatan. Keluarga besar tahu kalau aku akan jadi seorang guru di pedalaman Sumatera sana, dihutan pula. Aduh gak kebayang. Jelas mereka pun tidak setuju, aku cucu perempuan terakhir dan sepupuku lebih 20 orang. Intinya aku tidak boleh merantau lagi meninggalkan ibuku sendirian di rumah. Baik ya, aku jadi makin sayang. (Iyalah namanya juga keluarga)

Sekelut dibenak ini tentang kehidupanku nanti, apa ini jalan yang benar ? Apa aku bisa melewati semua ? Jauh dari rumah, dari semua kenyamanan ?